Tangisan di Seputar Natal

Refleksi

Oleh Ulbrits Siahaan

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. (Mat 2:16)

Pertanyaan  orang Majus menggelisahkan  Herodes,   “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Karena Herodes gagal menemukan bayi Yesus,  dia tidak mau ambil risiko.   Dibunuhnya semua bayi  berumur dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya.

Ada tangisan orang tua yang anaknya dibunuh.    Mereka mungkin tidak mengerti,  bahwa kelahiran sang bayi yang  ditakutkan Herodes akan mengubah sejarah dunia.   Bahwa dibalik tangisan mereka,  sang bayi adalah juruselamat yang membawa kabar sukacita.   Hal itu dirasakan  oleh para gembala di padang sampai kita di jaman ini,  dan bahkan nanti sampai  Yesus datang untuk kali kedua.

Kematian para bayi di Betlehem dan sekitarnya mengingatkan kita untuk tangisan di sekitar kita

Mereka yang berduka karena kematian orang yang dikasihi,  istri, suami, anak dan kerabat

Mereka yang jatuh sakit,   dan juga masih harus berjuang untuk mencari biaya berobat

Mereka yang korban kekerasan, kemiskinan struktural, ketidakberdayaan, dan seterusnya

Mereka yang tidak bisa beribadah karena ijin,  bahkan teraniaya karena iman kepada Kristus.

Sukacita natal yang kita rasakan  adalah  lonceng yang harus bergema

Mengingatkan kita akan mereka yang perlu ditopang dan ditolong

Jadilah saluran kasih Tuhan bagi sesama

Selamat hari natal !

Ulbrits

Tinggalkan Komentar